Review Film The Menu: Satire Kuliner Gelap yang Tajam. The Menu tetap menjadi salah satu film paling tajam dan menggigit sejak rilis pada November 2022, dan di awal 2026, film ini masih sering dibicarakan ulang di kalangan penggemar dark comedy serta pecinta kuliner. Disutradarai Mark Mylod dengan naskah karya Seth Reiss dan Will Tracy, film berdurasi 107 menit ini menyajikan satire pedas terhadap dunia fine dining elit, pretensi foodie, dan ketimpangan kelas sosial. Berlatar di restoran eksklusif Hawthorne di pulau terpencil, cerita mengikuti sekelompok tamu kaya yang datang untuk menikmati menu spesial dari chef selebriti Julian Slowik (Ralph Fiennes). Namun, malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika chef mengungkap agenda gelapnya. Dengan Anya Taylor-Joy sebagai pusat cerita yang cerdas dan Ralph Fiennes yang menyeramkan, The Menu berhasil menyatukan humor hitam, ketegangan thriller, dan kritik sosial dalam satu paket yang sulit dilupakan, membuatnya layak ditonton ulang kapan saja. INFO CASINO
Sinopsis dan Alur Cerita: Review Film The Menu: Satire Kuliner Gelap yang Tajam
Cerita dimulai saat Tyler (Nicholas Hoult), seorang foodie fanatik, membawa kencannya Margot (Anya Taylor-Joy) ke Hawthorne, restoran yang hanya melayani 12 tamu dengan harga $1.250 per orang. Tamu lain termasuk kritikus makanan Lillian Bloom beserta editornya, pasangan kaya Richard dan Anne, aktor Hollywood yang sudah pudar George Diaz dengan asistennya, serta tiga pengusaha teknologi sombong. Semua tiba dengan perahu kecil ke pulau terpencil, di mana chef Julian Slowik menyambut mereka dengan tenang namun mengintimidasi.
Setiap hidangan disajikan dengan pengantar dramatis dari chef, lengkap dengan kartu menu yang menjelaskan bahan dan filosofi di baliknya—mulai dari amuse-bouche berupa tanaman laut dan air laut beku, hingga “bread course” tanpa roti yang menjadi pukulan pertama bagi tamu. Perlahan, suasana berubah: tamu menyadari bahwa menu ini bukan sekadar makan malam mewah, melainkan “pengalaman” yang dirancang untuk membongkar hipokrisinya mereka. Twist demi twist muncul, termasuk pengakuan chef tentang masa lalunya di restoran cepat saji dan rasa kecewanya terhadap industri kuliner yang telah merusak passion-nya. Klimaks datang dengan keputusan ekstrem chef untuk mengakhiri semuanya—termasuk dirinya dan staf—dalam api pembakaran restoran, sementara Margot menemukan cara bertahan hidup dengan kecerdasannya.
Performa Aktor dan Pengarahan: Review Film The Menu: Satire Kuliner Gelap yang Tajam
Ralph Fiennes mencuri perhatian sebagai Julian Slowik, chef yang tenang, karismatik, tapi penuh amarah terpendam. Ia memerankan karakter ini dengan campuran Zen dan kegilaan terkendali—setiap tepuk tangan kerasnya membuat penonton tegang, sementara monolognya tentang “rasa” versus “makan” terasa seperti pisau yang menusuk. Penampilannya menjadi salah satu yang terbaik dalam karirnya di genre ini.
Anya Taylor-Joy sebagai Margot membawa energi segar dan relatable. Karakternya bukan foodie elit; ia skeptis, tajam, dan cepat beradaptasi. Chemistry dengan Nicholas Hoult (Tyler yang annoying tapi patut disayangkan) terasa nyata, terutama saat Margot mulai memahami agenda chef. Hoult sendiri brilian sebagai tipe foodie pretensius yang akhirnya mendapat pelajaran pahit. Pemeran pendukung seperti Janet McTeer, Judith Light, dan John Leguizamo menambah lapisan satire melalui karikatur yang tepat sasaran.
Mark Mylod mengarahkan dengan presisi: ritme film seperti menu tasting itu sendiri—perlahan membangun ketegangan, dengan jeda kartu menu yang lucu sekaligus mencekam. Sinematografi Peter Deming menangkap keindahan pulau dan hidangan secara estetis, tapi juga menonjolkan claustrophobia ruang makan. Musik Colin Stetson menambah nuansa gelap tanpa berlebihan.
Elemen Satire dan Kuliner
The Menu paling kuat sebagai satire terhadap budaya fine dining. Hidangan-hidangannya terinspirasi nyata (dibantu chef Dominique Crenn sebagai konsultan), seperti roti tanpa roti atau hidangan yang “menggugah” tapi minim substansi, langsung mengejek pretensi Michelin-star. Film ini menyoroti bagaimana chef dan tamu sama-sama terjebak dalam sistem: chef kehilangan jiwa karena tekanan, tamu membayar mahal untuk status. Ada kritik tajam pada ketimpangan—staf yang mengabdikan hidup untuk tamu kaya yang tak menghargai—dan absurditas “pengalaman” kuliner yang lebih penting daripada rasa sebenarnya.
Humor hitamnya muncul dari momen-momen seperti tamu yang panik tapi tetap berusaha tampil keren, atau chef yang memaksa mereka “menghargai” makanan sebelum akhir tragis. Ending dengan s’mores manusia dan Margot yang lolos sambil menikmati cheeseburger sederhana menjadi pukulan akhir yang sempurna—simbol kemenangan kesederhanaan atas pretensi.
Kesimpulan
The Menu adalah film yang cerdas, menghibur, dan sedikit mengganggu—persis seperti yang diinginkan satire gelap. Ia berhasil mengkritik dunia kuliner elit tanpa terasa menggurui, sambil menyajikan thriller yang ketat dan komedi yang menggigit. Performanya luar biasa, terutama Fiennes dan Taylor-Joy, ditambah produksi yang mewah membuatnya terasa premium meski temanya anti-premium. Bagi yang suka dark comedy seperti Knives Out atau Get Out, atau sekadar penasaran dengan fine dining dari sisi gelapnya, film ini wajib ditonton. Di 2026, The Menu masih terasa segar dan relevan—sebuah hidangan yang tak mudah dilupakan, bahkan setelah credits bergulir.