Review Film Ronggeng Kematian: Kutukan Tari. Di antara film horor Indonesia yang terus menjamur setiap tahun, Ronggeng Kematian (2024) garapan sutradara Rizal Mantovani menjadi salah satu yang paling banyak dibicarakan sejak tayang di bioskop pada 29 Agustus 2024. Film ini berhasil menarik lebih dari 4 juta penonton dalam dua bulan pertama dan kini masih sering muncul dalam diskusi horor lokal hingga Februari 2026. Berlatar di sebuah desa di Jawa Tengah yang masih kental dengan tradisi ronggeng, cerita mengikuti seorang penari ronggeng muda bernama Sekar (Aura Kasih) yang mulai dihantui setelah tampil dalam hajatan besar. Apa yang awalnya terlihat seperti gangguan biasa perlahan mengungkap kutukan tari kuno yang sudah berlangsung puluhan tahun. Dengan durasi 105 menit, film ini tidak hanya mengandalkan jumpscare dan penampakan menyeramkan, melainkan juga membangun teror lewat suara tembang macapat yang berubah menjadi jeritan gaib serta atmosfer desa yang pengap dan penuh rahasia. Review ini mengupas makna mendalam di balik cerita, fokus pada tema kutukan tari sebagai simbol trauma dan pengorbanan yang tersembunyi dalam seni tradisional. MAKNA LAGU
Sinopsis dan Alur yang Mencekam: Review Film Ronggeng Kematian: Kutukan Tari
Sekar, seorang sinden dan penari ronggeng berbakat yang baru kembali ke desa setelah lama merantau, mendapat tawaran tampil di hajatan besar keluarga kaya desa. Malam itu, ia menyanyikan tembang macapat dan menari dengan sempurna, tapi sejak saat itu mulai mendengar bisikan aneh dan melihat bayangan perempuan berkebaya yang terus mengikuti. Warga desa tampaknya tahu sesuatu, tapi enggan berbicara terang-terangan. Semakin lama Sekar tinggal, semakin jelas bahwa hantu yang mengganggunya adalah ronggeng terdahulu yang tewas tragis puluhan tahun lalu akibat iri hati dan dendam sesama penari. Alur bergerak lambat di awal untuk membangun rasa tidak nyaman melalui detail kecil: suara gamelan yang tiba-tiba berhenti, bayangan di balik layar wayang, dan tembang yang terdengar meski tidak ada pertunjukan. Ketegangan mencapai puncak saat Sekar menemukan bahwa kutukan itu menargetkan setiap ronggeng yang dianggap “terlalu menonjol” oleh roh pendahulunya. Rizal Mantovani pintar memanfaatkan elemen budaya Jawa—macapat, gamelan, dan tradisi ronggeng—untuk menciptakan teror yang terasa sangat lokal dan autentik, bukan sekadar hantu generik.
Kekuatan Sinematik dan Makna Kutukan Tari: Review Film Ronggeng Kematian: Kutukan Tari
Secara visual, film ini menggunakan palet warna gelap dengan dominasi hijau tua dan merah tua untuk menciptakan rasa pengap dan mistis. Rumah panggung, pendopo, dan panggung hajatan menjadi latar yang sempurna untuk membangun atmosfer horor tradisional. Tema kutukan tari di sini bukan hanya soal penampakan gaib, melainkan simbol trauma yang diturunkan dalam dunia seni tradisional: iri hati antar-seniman, tekanan untuk selalu tampil sempurna, dan pengorbanan pribadi yang sering disembunyikan di balik sorak penonton. Kematian ronggeng terdahulu yang digambarkan sebagai akibat dari “kutukan iri” sebenarnya adalah metafor kekerasan terselubung dalam lingkungan seni—persaingan yang tak sehat, fitnah, dan tekanan psikologis yang bisa menghancurkan seseorang. Performa Aura Kasih sebagai Sekar sangat kuat; ia berhasil menyampaikan rasa takut, kebingungan, dan akhirnya penerimaan bahwa ia harus menghadapi kutukan itu demi memutus rantai. Adegan klimaks di panggung hajatan yang gelap, di mana Sekar harus menari sambil dihantui, menjadi salah satu momen paling mencekam—menggabungkan keindahan tembang macapat dengan horor psikologis yang menusuk. Ending film yang bittersweet memberikan ruang bagi penonton untuk merenung: apakah kutukan benar-benar hilang, atau hanya tertidur menunggu ronggeng berikutnya yang “terlalu bersinar”.
Dampak Budaya dan Relevansi di 2026
Enam tahun setelah rilis, Ratu Ilmu Hitam masih sering dibahas di komunitas film Indonesia sebagai horor yang tidak hanya menyeramkan, tapi juga punya substansi sosial. Film ini membuka diskusi tentang trauma yang diturunkan lintas generasi, kekerasan tersembunyi di balik “tradisi keluarga”, dan bagaimana masyarakat sering memilih diam demi menjaga nama baik. Di 2026, ketika isu kesehatan mental, trauma keluarga, dan kekerasan berbasis gender semakin banyak dibicarakan, pesan film ini terasa semakin relevan. Banyak penonton muda menggunakan cuplikan adegan seperti “kutukan itu bukan dari setan, tapi dari kita sendiri” sebagai caption di media sosial untuk mengkritik sikap menutup-nutupi dalam keluarga atau masyarakat. Film ini juga sering dijadikan referensi dalam kelas sinema atau diskusi tentang horor psikologis di Indonesia—bukti bahwa horor bukan hanya untuk menakut-nakuti, tapi juga untuk mengungkap luka yang selama ini disembunyikan.
Kesimpulan
Sinden Gaib bukan sekadar film horor yang menyeramkan; ia adalah cermin tajam tentang sinden berhantu sebagai simbol trauma dan pengorbanan yang tersembunyi di balik keindahan seni tradisional. Rizal Mantovani berhasil menyatukan jumpscare efektif dengan kritik sosial yang mendalam, membuat penonton tidak hanya takut, tapi juga merasa tidak nyaman dengan kenyataan yang ditampilkan. Di tengah Februari 2026, film ini tetap relevan sebagai pengingat bahwa “kutukan” terburuk bukan datang dari gaib, melainkan dari iri hati, persaingan tidak sehat, dan trauma yang tak pernah diakui dalam dunia seni. Bagi siapa pun yang pernah merasa ada luka lama di balik sorak penonton atau tradisi keluarga, film ini terasa seperti bisikan: ya, teror itu nyata, dan kita semua punya bagian di dalamnya. Itulah kekuatan sejatinya—menakutkan bukan karena hantu, tapi karena kebenaran yang terlalu dekat dengan kenyataan.