Review Film Greenland 2: Migration FIlm bencana apokalips. Greenland: Migration tayang di bioskop pada 28 November 2025, menjadi sekuel yang sangat dinantikan dari film bencana Greenland (2020). Disutradarai oleh Ric Roman Waugh dan dibintangi kembali Gerard Butler sebagai John Garrity serta Morena Baccarin sebagai istrinya, Allison, film ini mengikuti keluarga Garrity yang kini menghadapi ancaman baru setelah selamat dari komet di film pertama. Kali ini bencana berupa gelombang migrasi manusia massal akibat runtuhnya peradaban global pasca-apokaliptik. Dengan durasi sekitar 128 menit, Greenland 2 menggabungkan elemen survival, drama keluarga, dan aksi skala besar. Film ini langsung meraih sambutan positif dari penonton dengan skor CinemaScore A- dan audience score tinggi di platform streaming setelah masa bioskop, meskipun kritikus memberikan penilaian lebih beragam. Ini adalah film bencana apokaliptik yang tetap fokus pada manusia di tengah kekacauan dunia. INFO CASINO
Alur Cerita dan Plot: Review Film Greenland 2: Migration FIlm bencana apokalips
Beberapa tahun setelah komet menghancurkan sebagian besar peradaban, keluarga Garrity tinggal di komunitas kecil yang relatif aman di daerah pegunungan Greenland. John bekerja sebagai teknisi listrik, Allison menjadi guru, dan anak mereka, Nathan, sudah beranjak remaja. Ketika sisa-sisa pemerintah Amerika Serikat mengumumkan bahwa Greenland tidak lagi bisa menopang populasi yang terus bertambah akibat gelombang migran dari seluruh dunia, situasi berubah drastis. Komunitas mereka dipaksa evakuasi paksa menuju zona selatan yang lebih kecil dan sudah overcrowded. Perjalanan darat melalui medan beku, hutan, dan kota-kota yang sudah ditinggalkan menjadi penuh bahaya: kelompok survivalis bersenjata, badai salju ekstrem, kekurangan bahan bakar, dan konflik antar-kelompok manusia. Plot semakin tegang ketika keluarga Garrity terpisah dalam satu serangan, memaksa John dan Allison mencari jalan untuk bersatu kembali sambil melindungi Nathan. Ada momen-momen besar seperti pengejaran kendaraan di atas es, pertempuran di reruntuhan kota, dan keputusan moral sulit tentang siapa yang pantas diselamatkan. Meski beberapa bagian terasa familiar dari film bencana klasik, eksekusi aksi dan pacing yang cepat membuat cerita tetap menegangkan hingga menit akhir.
Pemeran dan Penampilan: Review Film Greenland 2: Migration FIlm bencana apokalips
Gerard Butler kembali membawa energi khasnya sebagai John Garrity—pria biasa yang dipaksa menjadi pahlawan keluarga. Ia berhasil menyampaikan rasa lelah, ketakutan, dan tekad seorang ayah yang sudah pernah kehilangan hampir segalanya. Morena Baccarin sebagai Allison tetap jadi kekuatan emosional film ini; ia memberikan penampilan yang kuat sebagai ibu yang tangguh namun rentan, terutama di adegan-adegan ketika harus membuat keputusan sulit demi anaknya. Scott Glenn kembali muncul dalam peran pendukung sebagai figur senior yang bijaksana, sementara aktor muda yang memerankan Nathan memberikan penampilan natural sebagai remaja yang dipaksa dewasa terlalu cepat. Ensemble cast pendukung—termasuk beberapa wajah baru sebagai migran dan survivalis—membantu membangun dunia yang terasa hidup dan kacau. Secara keseluruhan, aktingnya solid dan mendukung tema utama film: bagaimana keluarga menjadi satu-satunya hal yang masih berarti di tengah kehancuran total.
Elemen Bencana Apokaliptik dan Migrasi
Greenland 2 mengambil langkah cerdas dengan menggeser fokus dari bencana alam ke bencana sosial yang diakibatkan oleh bencana alam tersebut. Alih-alih meteor atau tsunami lagi, ancaman utama adalah manusia itu sendiri: kelaparan, keputusasaan, dan konflik antar-kelompok yang berebut sumber daya terakhir. Film ini menunjukkan bagaimana migrasi massal dalam skala global menciptakan situasi perang saudara yang kacau di wilayah yang masih “layak huni”. Adegan-adegan aksi besar—seperti konvoi kendaraan yang diserang di padang es atau bentrokan di pelabuhan evakuasi—dieksekusi dengan baik dan terasa realistis. Sinematografi memanfaatkan lokasi Greenland yang sungguhan untuk memberikan tampilan dingin, luas, dan menakutkan. Efek visual cukup meyakinkan untuk skala produksi menengah, terutama dalam penggambaran kota-kota yang porak-poranda dan kerumunan manusia yang putus asa. Meski ada beberapa momen yang terasa klise, film ini berhasil membangun rasa tegang terus-menerus dan menjaga penonton peduli pada nasib keluarga utama.
Kesimpulan
Greenland: Migration adalah sekuel yang solid dan menghibur dalam genre film bencana apokaliptik. Dengan mengambil fokus pada krisis migrasi manusia pasca-bencana, film ini menawarkan cerita yang lebih grounded dan relevan dibandingkan sekadar ledakan dan kehancuran. Gerard Butler dan Morena Baccarin kembali membawa chemistry kuat sebagai pasangan yang berjuang demi keluarga, sementara aksi dan visualnya cukup memuaskan untuk pengalaman bioskop. Meski tidak se-revolusioner film pertama dan ada beberapa bagian yang terasa familiar, Greenland 2 berhasil menjadi tontonan yang menegangkan dan emosional. Cocok untuk penggemar film survival keluarga seperti The Road atau The Day After Tomorrow. Skor keseluruhan: 7.5/10—film bencana yang tetap punya hati di tengah dunia yang sudah hancur.