Review Film Penyalin Cahaya: Thriller Kampus yang Gelap. Penyalin Cahaya yang tayang perdana 25 November 2021 menjadi salah satu film Indonesia paling berani dan paling dibicarakan dalam beberapa tahun terakhir. Disutradarai dan ditulis oleh Kamila Andini, film ini mengemas thriller psikologis kampus dengan lapisan kritik sosial yang tajam. Dibintangi Shenina Cinnamon sebagai Sur, Jerome Kurniawan sebagai Amin, dan Lutesha sebagai ibu Sur, Penyalin Cahaya tidak hanya menyuguhkan ketegangan, tapi juga mengupas dalam-dalam soal kekerasan seksual di lingkungan pendidikan tinggi, impunitas pelaku, dan trauma yang disembunyikan. Hingga kini film ini masih sering dijadikan bahan diskusi tentang budaya pemerkosaan dan kegagalan institusi dalam menangani kasus kekerasan. INFO CASINO
Kisah yang Menggigit dan Realistis: Review Film Penyalin Cahaya: Thriller Kampus yang Gelap
Sur adalah mahasiswi jurusan fotografi di sebuah kampus negeri besar yang bekerja paruh waktu sebagai penyalin cahaya—menggandakan dokumen dan foto. Kehidupannya berubah drastis setelah ia menjadi korban kekerasan seksual oleh sekelompok senior kampus. Alih-alih mendapat keadilan, Sur justru dihadapkan pada sistem yang melindungi pelaku: teman-teman yang bungkam, dosen yang menutup mata, dan aturan kampus yang lebih mementingkan nama baik institusi daripada korban.
Film ini tidak menampilkan kekerasan secara eksplisit. Kamila Andini memilih pendekatan yang jauh lebih menyeramkan: menunjukkan bagaimana trauma terus hidup dalam ingatan korban, bagaimana pelaku berjalan bebas dengan senyum di wajah, dan bagaimana lingkungan sekitar ikut memperpanjang penderitaan. Narasi bergerak perlahan tapi pasti, membangun rasa tidak nyaman yang terus meningkat hingga klimaks yang dingin dan memukul.
Sinematografi dan Akting yang Memukau: Review Film Penyalin Cahaya: Thriller Kampus yang Gelap
Visual Penyalin Cahaya menjadi salah satu kekuatan utamanya. Penggunaan warna dingin, pencahayaan kontras tinggi, dan komposisi frame yang simetris menciptakan suasana claustrophobic meski latarnya adalah kampus yang luas. Teknik close-up pada wajah Sur dan penggunaan foto-foto polaroid sebagai elemen naratif menambah kedalaman emosional. Musik karya Ricky Lionardi yang minimalis tapi menusuk juga ikut memperkuat ketegangan tanpa pernah berlebihan.
Shenina Cinnamon memberikan penampilan terbaik dalam kariernya sebagai Sur. Ekspresi wajahnya yang berubah dari polos menjadi kosong lalu penuh dendam terasa sangat hidup. Ia berhasil membuat penonton merasakan beban psikologis yang ditanggung karakternya tanpa perlu dialog panjang. Lutesha sebagai ibu Sur juga menyampaikan rasa sakit seorang orang tua yang tahu anaknya menderita tapi tidak tahu cara membantu. Jerome Kurniawan sebagai Amin membawa nuansa abu-abu—teman yang ingin membantu tapi terjebak dalam tekanan lingkungan.
Kritik Sosial yang Tajam dan Relevan
Penyalin Cahaya bukan thriller biasa yang hanya mengejar ketegangan. Film ini secara terang-terangan mengkritik budaya pemerkosaan di kampus, sikap victim blaming, dan kegagalan sistem pelaporan kekerasan seksual. Adegan rapat komisi etik yang lebih sibuk menutupi kasus daripada mencari kebenaran menjadi salah satu momen paling getir. Kamila Andini juga menyinggung bagaimana media sosial dan foto bisa menjadi senjata sekaligus bukti yang dimanipulasi.
Film ini dirilis di tengah maraknya kasus kekerasan seksual di perguruan tinggi Indonesia dan diskusi tentang RUU PKS yang saat itu masih bergulir. Banyak penonton yang merasa film ini seperti cermin: apa yang ditampilkan di layar terasa sangat dekat dengan kenyataan yang terjadi di berbagai kampus.
Kesimpulan
Penyalin Cahaya tetap menjadi salah satu film Indonesia paling penting dan paling kuat secara emosional dalam satu dekade terakhir. Dengan pendekatan thriller yang cerdas, sinematografi yang indah namun gelap, dan akting yang luar biasa, film ini berhasil menyampaikan pesan berat tanpa jatuh ke jebakan drama murahan atau eksploitasi. Lebih dari sekadar hiburan, Penyalin Cahaya adalah pengingat pahit bahwa kekerasan seksual bukan hanya masalah pribadi korban, melainkan kegagalan kolektif sebuah sistem. Bagi siapa saja yang ingin menonton thriller yang benar-benar punya substansi dan relevansi sosial, film ini wajib masuk daftar. Empat tahun setelah rilis, pesannya masih terasa sangat tajam dan sangat dibutuhkan.